Ujian kepekaan terhadap suara Allah

Tuhan ingin kita mengalami kebesaran Tuhan. Seperti Abraham, ia mendapat kebesaran Tuhan, Kej 12:1-3. Namun seperti Abraham diuji, demikian juga ada ujian bagi kita untuk mengalami kebesaran dan keagungan dari Tuhan.

Salah satu ujian bagi Abraham sehingga ia mengalami kebesaran Tuhan adalah Ujian kepekaan terhadap suara Allah


Abraham mencapai kebesarannya karena ia seorang yang sangat peka terhadap suara Allah. Mari kita perhatikan Abraham yang peka terhadap suara Tuhan ini.

Abraham segera menjawab.
Kata “lalu sahutnya:…” Segera ia menjawab. Jadi Abraham tidak berlama-lama menjawab, ia langsung menyambut panggilan Tuhan. Bahkan ia mengatakan “ini aku” (bahasa ing. (kjv): “God…said unto him: “Abraham!” And he said: “behold, here i am” = aku disini, ini aku. Itu berarti saat Tuhan memanggil, Abraham ada, ia segera menjawab, dan yang paling penting ia selalu ada dihadirat Tuhan.

Abraham mengenali karakteristik suara Allah. 
Abraham mengenali suara istrinya, suara pembantunya, dan suara orang disekitarnya. Abraham sangat mengenal suara Tuhan sehingga ketika namanya dipanggil langsung ia menjawab: “ya, Tuhan.” Abraham peka terhadap suara Tuhan karena ada keakraban dengan Tuhan. Jelas sekali karena Abraham langsung mengenali suara Tuhan maka ini menunjukkan bahwa Abraham bergaul akrab dengan Tuhan. Suatu hubungan akrab tidak dijalin dalam sehari. Bahkan kepekaan terhadap suara Tuhan nya merupakan persekutuannya dengan Tuhan setiap saat. Semua ini lahir dari hubungan dan persekutuan yang akrab dengan Tuhan.

Kepekaan terhadap suara Tuhan adalah penting dan harus. 
Ini akan menentukan keputusan yang akan kita ambil. Ini akan mempengaruhi hidup kita ke depan. Kenalkah kita dengan suara Tuhan? Apa panggilan Tuhan yang harus kita lakukan hari ini? Apakah kita mendengarkan suaraNya? Apakah kita bersedia untuk taat kepada perkataanNya? Masa depan kita akan ditentukan oleh kebenaran ini.

Tuhan sedang memanggil kita untuk mengalami keakraban dengan Tuhan. 
Seperti kita senang bersama-sama dengan orang yang kita kasihi. Seperti orang tua senang main dengan anak-anaknya. Demikian juga terlebih lagi Tuhan senang kita membangun keakraban dengan Tuhan. Ia sedang memanggil kita untuk membangun keakraban denganNya. Betapa Ia merindukan kita bersekutu denganNya: “Anakku, Aku sangat mengasihi engkau. Aku sangat merindukan engkau. Engkau ada di hatiKu. Aku selalu memanggil engkau. Betapa Aku rindu engkau bersekutu dengan Ku.”

Bangunlah hubungan yang akrab dengan Tuhan.
Keakraban dengan Tuhan tidak dibangun dalam sekejab atau dalam sehari. Semua ini membutuhkan persekutuan yang serius dan sungguh-sungguh, doa seumur hidup, baca firmannya setiap waktu, kesetiaan tanpa batas.

Seorang yang peka terhadap suara Tuhan, akan mengalami kebesaran Tuhan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s